REVIEW JURNAL
Nama : Atika Devina El Dari
NPM : 11214782
Kelas : 4EA16
Judul : KOMUNIKASI DAN GENDER : PERBANDINGAN GAYA KOMUNIKASI
DALAM BUDAYA MASKULIN DAN FEMINIM
Penulis : Sangra Juliano P
Link :https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=jurnal+dasar+komunikasi+dan+komunikasi+bisnis+2017&btnG=
Judul : KOMUNIKASI DAN GENDER : PERBANDINGAN GAYA KOMUNIKASI
DALAM BUDAYA MASKULIN DAN FEMINIM
Penulis : Sangra Juliano P
Link :https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=jurnal+dasar+komunikasi+dan+komunikasi+bisnis+2017&btnG=
Pendahuluan
Cukuplamapriadianggapmendominasi
wanita dalam berbagai hal, seperti dalam bidang pekerjaan, profesi/karir,
olahraga, militer, hingga dalam hubungan pribadi dan rumah
tangga, bahkan dominasi tersebut berlangsung
relatif lama sebelum munculnya isu emansipasi dan kesetaraan gender. Komunikasi dinilai turut
memberikan kontribusi dalam mengangkat
isu kesetaraaan gender tersebut sebagai wujud penyampaian pesan dan pernyataan
yang berasal dari pikiran, emosi, tindakan serta pengalaman diantara individu.
Banyak
pengalaman dan pengamatan disekitar kita yang menggambarkan rumitnya komunikasi
yang terjadi antara pria dan wanita.
Konsepkomunikasi pria dan wanita layaknya seperti komunikasi
lintas budaya yang terkadang membingungkan seperti saat membayangkan dua orang
berbicara namun berasal dari dua negara yang berbeda. Pria dan wanita sering
menggunakan bahasa yang bertentangan/ berlawanan dengan maksud dan tujuannya.
Seperti saat terjadinya pertengkaran antara sepasang kekasih, dimana wanita
cenderung akan memilih untuk diam, sebagai ungkapan pesan yang bermakna
bahwa dia (wanita) sedang menghukum kekasihnya (pria), disisi lain pria lebih
menikmati suasana hening yang tercipta saat bersama pasangannya, sebelum
akhirnya ia (para kaum pria) menyadari bahwa “keheningan” itu adalah awal dari
sebuah konflik.
Adanya unsur-unsur
kesengajaan dari para pria untuk
mempertahankan dominasinya di masyarakat dengan membedakanekspresi berkomunikasi untuk pria dan wanita. Hal ini disebabkan karena paradigm
masyarakat terhadap perempuan yang dianggap hanya sebagai pelengkap, objek, dan
lemah. Oleh karenanya, muncul ekspresi-ekspresi asimetri yang berimbas
kepada ketidakadilan (gender
inequalities) terhadap wanita.
Banyak penelitian yang telah dilakukan dan dipublikasikan (terutama di
Amerika dan Eropa) kepada masyarakat mengenai perbandingan gaya komunikasi
antara pria dan wanita, tapi masih kurang mendapat perhatian khusus, karena
sebagian besar masyarakat cenderung
menganggap bahwa pria dan wanita sejajar dalam hal kemampuan, bakat, dan
potensi diri, walaupun secara ilmiah, pria dan wanita memiliki banyak
perbedaan, khususnya dalam berkomunikasi
Dari paparan
latar belakang diatas, maka focus permasalahan
yang dianalisa adalah : bagaimana
peran konsep gender dalam gaya komunikasi pria dan wanita
dan perbedaan gaya komunikasi dalambudaya maskulin dan feminim.
Pembahasan
- Peran Gender dalam Gaya Komuni- kasi Pria dan Wanita
Untuk membedakan
antara seks dan gender dapat dipahami bahwa, “Seks
mengacu pada ciri biologis antara pria dan wanita, yang sering disebut jenis
kelamin, sementara gender mengacu pada konsep psikologikal, sosial dan
interaksi karakter diri dari Individu”. (Wolvin, 1995:105).
Sejalan dengan
pendapat tersebut Sandra Harding dan Julia Wood, menyebutkan bahwa gender
adalah sistem makna, sudut pandang melalui posisi dimana kebanyakan pria dan
wanita dipisahkan secara lingkungan, material, simbolis. Gender juga merujuk
pada perbedaan karakter pria dan perempuan berdasarkan konstruksi sosial
budaya, yang berkaitan dengan sifat status, posisi, dan perannya dalam
masyarakat.4
Faktor yang harus
diperhatikan adalah bahwa istilah “sifat pria” dan “sifat wanita”, yaitu konsep budaya maskulin dan
budaya feminim. Namun pada kenyataannya bahwa bahasan mengenai komunikasi pria
dan wanitaharus mengacu pada “kecenderungan
yang ada pada pria” dan “kecenderungan yang ada pada wanita”.Perlu di ingat bahwa kecenderungan dari suatu
gender bukanlah deskriptor untuk sebuah seks/ jenis kelamin. Seseorang dengan gesturnya, cara berjalannya, nada suara dan bahasanya seringkali digunakan untuk
menjadi bahan stereotip dari suatu kelompok
tertentu.
2.
Perbedaan Susunan Syaraf Otak
Pria dan Wanita
Dari perspektif
seksual, hasil penelitian biologis
menyatakan temuan bahwa dalam tubuh melukiskan seksual asimetris yang sangat
konsisten antara pria dan wanita. Seks berbeda karena
perbedaan dari susunan otak, struktur dan organ
emosional tubuh antara pria dan wanita. Hal-hal tersebut berperan dalam
mempengaruhi cara/proses
penyampaian informasi, sehingga pada hasilnya persepsi, prioritas dan tingkah-
laku antara pria dan wanita jadi berbeda. Dasar-dasar biologis seperti inilah
yang menimbulkan efek mendalam dalam pola komunikasi pria dan wanita.
Sebagai contoh, perbedaan
respon antara pria dan wanita dilatarbelakangi dengan adanya perbedaan struktur, susunan dan pengorganisasian
didalam otak.
Pada
kenyataannya, otak wanita memiliki lebih banyak daerah yang terkait dengan komunikasi daripada otak pria,
yang menjelaskan mengapa wanita cenderung menggunakan bahasa sebagai
perangkat membangun hubungan emosional, sedangkan pria menggunakan bahasa
untuk saling bertukar informasi dan memecahkan
masalah. Rata-rata, seorang wanita berkata
7.000 kata per hari, sementara pria
hanya mengatakan 2.000 kata perharinya. Kedua bagian otak wanita juga terhubung
lebih efektif daripada otak pria, dan mereka terhubung lebih dekat, yang
menjelaskan bagaimana perempuan lebih mampu untuk multitasking dibandingkan
pria, yang umumnya harus berkonsentrasi pada satu pekerjaan pada satu waktu.
Konektivitas lebih besarpadaotak perempuan jugadiduga
menjadi alasan adanya kemampuan intuisi wanita yang lebih baik. 6
Pada umumnya
otak pria tersekat- sekat secara tegas, sehingga mempengaruhi kemampuannya dalam mengelola informasi. Mayoritas
kaum pria memiliki kemampuan untuk memilah dan menyimpan informasi dengan rapi
di kepalanya sedemikian rupa. Dua bagian dari otak pria terhubung oleh
serat-serat berukuran lebih tipis dibandingkan otak wanita, dimana
hal tersebut mempengaruhi keterbatasan salah satu sisi
otak pria dalam menerima arus informasi. Hal inilah yang menyebabkan wanita
lebih ekspresif dalam mengekspresikan emosi mereka dalam bentuk kata-kata,
karena apa yang ia rasakan dapat ditransmisikan lebih efektif dari pada sisi verbal yang ada di dalam otak.
Struktur otak yang berbeda pada wanita menyebabkan para wanita cenderung
melakukan rewind atas informasi yg ada
di kepala mereka selama berkali-kali. Satu-satunya cara untuk menghentikan itu adalah dengan
mengungkapkannya. “Curhat” akan membantu wanita dalam mengklasifikasikan dan
menata informasi di kepalanya.
Mengacu pada
beragam kajian pengetahuan dan penelitian sosial, dimana gender merupakan suatu
konstruksi sosial. Gender membedakan antara pengetahuan yang dipelajari
individu mengenai diri- sendiri dan dunia yang membuat seseorang tumbuh menjadi berbeda.
Pria dan
wanita seringkali diperlakukan dengan perlakuan yang
berbeda, baik sebagai seorang anak maupun sebagai orang dewasa. Sejak kecil,
anak laki-laki telah mempelajari sifat-sifat umum dari maskulinitas seperti
kebebasan, kompetisi, penyerangan dan sebagainya. Nilai kekuatan pria
berada pada kompetensi, efesiensi, dan pencapaian/kesuksesannya. Pria lebih
tertarik pada suatu objek dan benda dari pada mengenai manusia dan perasaannya,
sedangkan wanita mempelajari sifat-sifat feminin seperti ketergantungan, merawat dan sensitifitas. Perbedaan yang
berkembang sejak masa kanak-kanak (pria dan wanita) tumbuh
dalam dunia “berkata-kata” yang berbeda. Anak pria dan wanita cenderung
memiliki perbedaan dalam bagaimana mereka berbicara dengan temannya. Anak pria
cenderung bermain dalam kelompok yang besar dimana terdapat struktur kedudukan
dimana ada/tidak ada persaingan untuk kepemimpinan, adayang menjadi pemenang dan yang kalah
dalam setiap permainanyang pria mainkan dimana
aturan-aturan cukup kompleks didalamnya. Penekanannya ada dalam keahlian dan
siapa yang terbaik diantara mereka. Sedangkan anak wanita cenderung bermain
dalam kelompok yang kecil bahkan hanya berdua, dan biasanya akan menjadi teman
baik; kuncinya adalah keintiman. Masing-masing dapat
giliran dan biasanya tidak ada yang menang atau kalah,
dan anak wanita tidak terlalu mengumbar/ membanggakan kesuksesannya.
4.
Seksis Dalam Bahasa Pria dan Wanita
Bahasa adalah
alat komunikasi yang dipakai oleh masyarakat untuk
mengekspresikan gagasan yang telah menjadi konsesus bersama.
Ekspresi bahasa tersebut
menggambarkan kecenderungan masyarakat penuturnya. Oleh karena itu untuk mempelajari dan menjelaskan bahasa kita harus melibatkan aspek-aspek
sosial yang mencitrakan masyarakat tersebut, seperti tatanan sosial, strata
sosial, umur, lingkungan dan
lain-lain. Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Chomsky dalam penelitiannya
bahwa bahasa adalah asosial karena mengabaikan heterogenitas yang ada dalam
masyarakat, baik status sosial, pendidikan, umur,
jenis kelamin latar belakang budayanya, dan lain-lain.8Dalam hasil
penelitiannya, Chomsky percaya bahwa bahasa adalah hasil konsensus masyarakat. Konsesus itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh dominasi penguasa yang ada karena merekalah yang punya kekuatan
untuk mengeluarkan kebijakan. Namun demikian, perbedaan dalam penggunaan bahasa
oleh kaum pria dan wanita memang
sangat susah bila hanya
sekadar kecenderungan biologis semata.
5.
Perbandingan Gaya Komunikasi Budaya Maskulin dan Feminim
Wanita yang berasal dari
budaya feminim menanggapi dunia secara berbeda
daripriakarenapengalamandanaktivitasnya berbeda yang berakar pada
pembagian kerja. Karena dominasi
politiknya, sistem persepsi pria menjadi lebih dominan,
menghambat ekspresi bebas bagi pemikiran alternatif wanita. Untuk dapat
berpartisipasi dalam masyarakat, wanita harus mengubah perspektif mereka ke dalam sistem ekspresi yang dapat
diterima pria.
Pada umumnya,
para pria telah mendominasi masyarakat melalui pembicaraan dengan menggunakan
ekspresi yang kuat sementara wanita
harus beradaptasi dengan bahasa mereka untuk lingkungan-lingkungan
mereka baik itu bisnis atau pribadi, dimana terdapat permasalahan bahasa ketika
wanita dihadapkan antara bisnis dan hubungan pribadi. Mereka (wanita) dituntut
menggunakan bahasa formal
dalam lingkup bisnis tetapi
tetap menggunakan “bahasa feminim” saat berbicara dengan teman- teman dalam
hubungan pribadi. Jika mereka menolak untuk berbicara seperti layaknya wanita,
mereka akan ditertawakan karena dianggap maskulin
(tomboy), tetapi mereka juga diejek saat menggunakan “bahasa feminin” karena
dianggap tidak dapat berbicara dengan tegas, contohnya saat wanita harus
melakukan penyesuaian dalam setiap pidato mereka. Kebanyakan wanita bisa
menguasai bahasa feminim dan bahasa maskulin serta merasa nyaman menggunakan
bahasa feminim dan bahasa maskulin tersebut.
Dalam sebuah
situasi percakapan, Wanita (kaum feminim) cenderung menceritakan segala sesuatu
dengan cara yang berbelit. Semua yang berkaitan bisa dikatakan secara panjang,
padahal intinya bersifat sangat sederhana. Sementara itu,Pria (kaum maskulin) tidak
memproses informasi panjang dengan gambaran yang terlalu luas. Karena itu, pria
seringkali terlihat bosan dengan cerita yang berbelit. Pria cenderung
mengatakan apa yang harus mereka katakan,
dengan asumsi pesan yang
disampaikan jelas dan maju dari titik yang ingin dicapai. Oleh karena itu, pria
percaya bahwa wanita suka membuang-buang waktu, berbicara terlalu banyak dan
tidak langsung pada maksud mereka, sebaliknya para pria cenderung lebih to the point .
Dalam sebuah
pertengkaran, wanita cenderung suka mencampuradukkan masalah. Sementara itu,
pria memiliki naluri melawan, apalagi jika dia tidak mengerti mengapa
wanita dapat menjadi marah.
Dalam sebuah argumen keluhan,Sebenarnya, pria cenderung melihat diri mereka
sebagai pemecah masalah. Jadi, apa yang dikatakannya mungkin adalah sebuah
solusi singkat yang coba ia berikan.
Hal ini membuat pria tidak merasa bahwa yang dikatakan pasangan
adalah sebuah solusi. Justru, sebagai hal yang menunjukkan sifat acuhnya.
Padahal, mayoritas pihak pria telah membantu pasangannya mencarikan sebuah
solusi, walaupun hanya sebuah solusi sederhana. Dalam sebuah
penyelesaian masalah, para pria memang dilahirkan dengan sifat acuh terhadap
hal-hal sepele. Sementara itu, wanita memerlukan sebuah keyakinan bahwa hal
sepele tersebut tidak akan mengganggu hubungan mereka. Terlalu banyak berpikir, mencemaskan
hal kecil justru membuat masalah menjadi lebih kompleks atau bahkan membuat
masalah baru. Perbedaan cara pandang inilah yang membuat pria dan wanita
terkadang sulit menemukan kesepakatan. Tabel berikut dapat menggambarkan bagaimana
gaya komunikasi wanita.
Tabel 1. Gaya Komunikasi Wanita
|
Tatkala
Seorang Wanita Berkata…
|
Maksud
Sebenarnya adalah…
|
|
Kita perlu
bicara
|
Aku sedang stress atau punya masalah
|
|
Kita perlu
|
Aku ingin
|
|
Aku menyesal
|
Kamu yang akan me- nyesal
|
|
Itu
keputusanmu
|
Selama aku
setuju
|
|
Itu tidak
masalah bagiku
|
Tentu saja itu masalah bagiku!
|
|
Kamu harus belajar berkomunikasi
|
Pokoknya setujui saja apa kataku
|
|
Apakah kau mencin-
taiku?
|
Aku ingin sesuatu yang mahal
|
|
Kamu bersikap manis malam ini
|
Apakah seks saja yang selalu kau pikirkan?
|
|
Seberapa besar cintamu kepadaku?
|
Aku telah melakukan sesuatu yang tidak akan kau sukai
|
Perbedaan
lainnya juga dapat dilihat pada kontak verbal antara pria
dan wanita. Wanita lebih
banyak bicara pada pembicaraan pribadi, sedangkan pria
lebih banyak terlibat pembicaraan publik, pria menggunakan pembicaraan
sebagai pernyataan fungsi perintah, menyampaikan
informasi, dan meminta persetujuan. Wanita memiliki
kosakata yang luas untuk menjelaskan emosional dan estetika mereka. Wanita telah diajarkan untuk
mengekspresikan perasaan mereka, dan pria lebih kepada menyembunyikan dan
menyampingkan perasaan mereka. Oleh karena itu, wanita lebih banyak dan lebih
luas dalam berkata-kata untuk menunjukan apa yang mereka rasakan.
Sebagai contoh, pria akan mendeskripsikan warna merah, sedangkan wanita
mendeskripsikan dalam bentuk yang lebih spesifik seperti ruby, magenta, atau rose.
Dari
konteks nonverbal, saat berbicara wanita cenderung menjaga pandangan, sering
manggutdan berguman sebagai penanda ia mendengarkan dan menyatakan
kebersamaannya. Pria dalam hal mendengarkan berusaha mengaburkan kesan itu
sebagai upaya menjaga statusnya. Begitupula dengan bentuk-bentuk nonverbal
lainnya, seperti nada suara, lingkungan, kontak tubuh,
dan penampilan Wanita lebih ekspresif namun kurang memiliki kontrol.
Dibandingkan dengan pria, Wanita
lebih mampu mengekspresikan diri secara spontan dan
menunjukkan pose wajah yang akurat
terhadap apa yang
sedang disampaikan. Seringkali karena sikapnya yang ekspresif wanita
membuat hal-hal yang kurang disukai
oleh komunikan karena wanita mampu mengekspresikan
emosinya namun kurang memiliki kemampuan mengontrol apa yang sebaiknya tidak
diekspresikan. Namun pria lebih mampu membaca tulisan dalam bentuk sandi
(kode). Pria yang terlatih dalam bahasa nonverbal menunjukkan bahwa ia juga
mampu membaca sandi. Selain itu pria juga menunjukkan tingkah laku yang lebih
dominan saat berjabat tangan, marah, dan ekspresi kesal, sedangkan wanita
menunjukkan gerakan tubuh yang lebih terkoneksi saat tertawa, tersenyum, dan
postur tubuh lebih membuka diri.
Kesimpulan
1.
Peran
gender pada gaya komunikasi memang tidak dapat sepenuhnya dapat dijadikan alasan perbedaan antara gaya komunikasi pria
dan wanita, namun gender telah memberikan kontribusinya melalui proses sosialisasi pada masa pertumbuhan
seorang anak laki-laki dan perempuan. Peran lainnya juga dapat tergambarkan melalui adanya seksis dalam bahasa pria dan wanita dari beberapa
budaya tertentu.
2.
Mengenai perbandingan
gaya komu- nikasi antara dua budaya yang ber- beda yakni budaya maskulin (pria)
dan budaya feminim
(wanita), tidak menunjukkan bahwa cara berkomunikasi pria lebih baik
daripada cara berkomunikasi wanita atau sebaliknya. Namun perbedaan gaya
komunikasi tersebut dapat diamati berdasarkan pengkategorian- pengkategorian
tertentu, seperti perbedaan saat berbicara, pemilihan topic pembicaraan, cara
interupsi, penggunaan kata/kalimat tanya, menggunakan cerita dan guyonan, dan
kategori-kategori lainnya.