Saturday, September 30, 2017

Tugas Komunikasi Bisnis (Review Jurnal)

REVIEW JURNAL

Nama   : Atika Devina El Dari
NPM   : 11214782
Kelas   : 4EA16
Judul    : KOMUNIKASI DAN GENDER : PERBANDINGAN GAYA KOMUNIKASI
DALAM BUDAYA MASKULIN DAN FEMINIM

Penulis : Sangra Juliano P
Link :https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=jurnal+dasar+komunikasi+dan+komunikasi+bisnis+2017&btnG=


Pendahuluan
Cukuplamapriadianggapmendominasi wanita dalam berbagai hal, seperti dalam bidang pekerjaan, profesi/karir, olahraga, militer, hingga dalam hubungan pribadi dan rumah tangga, bahkan dominasi tersebut berlangsung  relatif  lama  sebelum munculnya isu emansipasi dan kesetaraan gender. Komunikasi dinilai turut memberikan kontribusi dalam mengangkat isu kesetaraaan gender tersebut sebagai wujud penyampaian pesan dan pernyataan yang berasal dari pikiran, emosi, tindakan serta pengalaman diantara individu.

Banyak pengalaman dan pengamatan disekitar kita yang menggambarkan rumitnya komunikasi yang terjadi antara pria dan wanita. Konsepkomunikasi pria dan wanita layaknya seperti komunikasi lintas budaya yang terkadang membingungkan seperti saat membayangkan dua orang berbicara namun berasal dari dua negara yang berbeda. Pria dan wanita sering menggunakan bahasa yang bertentangan/ berlawanan dengan maksud dan tujuannya. Seperti saat terjadinya pertengkaran antara sepasang kekasih, dimana wanita cenderung akan memilih untuk diam, sebagai ungkapan pesan yang bermakna bahwa dia (wanita) sedang menghukum kekasihnya (pria), disisi lain pria lebih menikmati suasana hening yang tercipta saat bersama pasangannya, sebelum akhirnya ia (para kaum pria) menyadari bahwa “keheningan” itu adalah awal dari sebuah konflik.

Adanya  unsur-unsur  kesengajaan  dari para pria untuk mempertahankan dominasinya di masyarakat dengan membedakanekspresi berkomunikasi untuk pria dan wanita. Hal ini disebabkan karena paradigm masyarakat terhadap perempuan yang dianggap hanya sebagai pelengkap, objek, dan lemah. Oleh karenanya, muncul ekspresi-ekspresi asimetri yang berimbas

kepada ketidakadilan (gender inequalities) terhadap wanita.

Banyak penelitian yang telah dilakukan dan dipublikasikan (terutama di Amerika dan Eropa) kepada masyarakat mengenai perbandingan gaya komunikasi antara pria dan wanita, tapi masih kurang mendapat perhatian khusus, karena sebagian besar masyarakat cenderung  menganggap bahwa pria dan wanita sejajar dalam hal kemampuan, bakat, dan potensi diri, walaupun secara ilmiah, pria dan wanita memiliki banyak perbedaan, khususnya dalam berkomunikasi
Dari paparan latar belakang diatas, maka focus permasalahan yang dianalisa adalah : bagaimana peran konsep gender dalam gaya komunikasi pria dan wanita dan perbedaan gaya komunikasi dalambudaya maskulin dan feminim. 
Pembahasan 
  1.  Peran Gender dalam Gaya Komuni- kasi Pria dan Wanita
Untuk  membedakan  antara   seks  dan gender dapat dipahami bahwa, “Seks mengacu pada ciri biologis antara pria dan wanita, yang sering disebut jenis kelamin, sementara gender mengacu pada konsep psikologikal, sosial dan interaksi karakter diri dari Individu”. (Wolvin, 1995:105).
Sejalan dengan pendapat tersebut Sandra Harding dan Julia Wood, menyebutkan bahwa gender adalah sistem makna, sudut pandang melalui posisi dimana kebanyakan pria dan wanita dipisahkan secara lingkungan, material, simbolis. Gender juga merujuk pada perbedaan karakter pria dan perempuan berdasarkan konstruksi sosial budaya, yang berkaitan dengan sifat status, posisi, dan perannya dalam masyarakat.4
Faktor yang harus diperhatikan adalah bahwa istilah “sifat pria” dan “sifat wanita”, yaitu konsep budaya maskulin dan budaya feminim. Namun pada kenyataannya bahwa bahasan mengenai komunikasi pria dan wanitaharus mengacu pada “kecenderungan yang ada pada pria” dan “kecenderungan yang ada pada wanita”.Perlu di ingat bahwa kecenderungan dari suatu gender bukanlah deskriptor untuk sebuah seks/ jenis kelamin. Seseorang dengan gesturnya, cara berjalannya, nada suara dan bahasanya seringkali digunakan untuk menjadi bahan stereotip dari suatu kelompok tertentu.

                   2.   Perbedaan   Susunan    Syaraf   Otak Pria dan Wanita 
Dari perspektif seksual, hasil penelitian biologis menyatakan temuan bahwa dalam tubuh melukiskan seksual asimetris yang sangat konsisten antara pria dan wanita. Seks berbeda karena perbedaan dari susunan otak, struktur dan organ emosional tubuh antara pria dan wanita. Hal-hal tersebut berperan dalam mempengaruhi cara/proses penyampaian informasi, sehingga pada hasilnya persepsi, prioritas dan tingkah- laku antara pria dan wanita jadi berbeda. Dasar-dasar biologis seperti inilah yang menimbulkan efek mendalam dalam pola komunikasi pria dan wanita. Sebagai contoh, perbedaan respon antara pria dan wanita dilatarbelakangi dengan adanya perbedaan struktur, susunan dan pengorganisasian didalam otak.
Pada kenyataannya, otak wanita memiliki lebih banyak daerah yang terkait dengan komunikasi daripada otak pria, yang menjelaskan mengapa wanita cenderung menggunakan bahasa sebagai perangkat membangun hubungan emosional, sedangkan pria menggunakan bahasa untuk saling bertukar informasi dan memecahkan masalah. Rata-rata, seorang wanita berkata
7.000 kata per hari, sementara pria hanya mengatakan 2.000 kata perharinya. Kedua bagian otak wanita juga terhubung lebih efektif daripada otak pria, dan mereka terhubung lebih dekat, yang menjelaskan bagaimana perempuan lebih mampu untuk multitasking dibandingkan pria, yang umumnya harus berkonsentrasi pada satu pekerjaan pada satu waktu. Konektivitas lebih besarpadaotak perempuan jugadiduga menjadi alasan adanya kemampuan intuisi wanita yang lebih baik. 6
Pada umumnya otak pria tersekat- sekat secara tegas, sehingga mempengaruhi kemampuannya dalam mengelola informasi. Mayoritas kaum pria memiliki kemampuan untuk memilah dan menyimpan informasi dengan rapi di kepalanya sedemikian rupa. Dua bagian dari otak pria terhubung oleh serat-serat berukuran lebih tipis dibandingkan otak wanita, dimana hal tersebut mempengaruhi keterbatasan salah satu sisi otak pria dalam menerima arus informasi. Hal inilah yang menyebabkan wanita lebih ekspresif dalam mengekspresikan emosi mereka dalam bentuk kata-kata, karena apa yang ia rasakan dapat ditransmisikan lebih efektif dari pada sisi verbal yang ada di dalam otak. Struktur otak yang berbeda pada wanita menyebabkan para wanita cenderung melakukan rewind atas informasi  yg  ada di kepala mereka selama berkali-kali. Satu-satunya cara untuk  menghentikan itu adalah dengan mengungkapkannya. “Curhat” akan membantu wanita dalam mengklasifikasikan dan menata informasi di kepalanya.

      3.                Proses Sosialisasi dan Masa Pertumbuhan Anak
Mengacu pada beragam kajian pengetahuan dan penelitian sosial, dimana gender merupakan suatu konstruksi sosial. Gender membedakan antara pengetahuan yang dipelajari individu mengenai diri- sendiri dan dunia yang membuat seseorang tumbuh menjadi berbeda.
Pria dan wanita seringkali diperlakukan dengan perlakuan yang berbeda, baik sebagai seorang anak maupun sebagai orang dewasa. Sejak kecil, anak laki-laki telah mempelajari sifat-sifat umum dari maskulinitas seperti kebebasan, kompetisi, penyerangan dan sebagainya. Nilai kekuatan pria berada pada kompetensi, efesiensi, dan pencapaian/kesuksesannya. Pria lebih tertarik pada suatu objek dan benda dari pada mengenai manusia dan perasaannya, sedangkan wanita mempelajari sifat-sifat feminin seperti ketergantungan, merawat dan sensitifitas. Perbedaan yang berkembang sejak masa kanak-kanak (pria dan wanita) tumbuh dalam dunia “berkata-kata” yang berbeda. Anak pria dan wanita cenderung memiliki perbedaan dalam bagaimana mereka berbicara dengan temannya. Anak pria cenderung bermain dalam kelompok yang besar dimana terdapat struktur kedudukan dimana ada/tidak ada persaingan untuk kepemimpinan, adayang menjadi pemenang dan yang kalah dalam setiap permainanyang pria mainkan dimana aturan-aturan cukup kompleks didalamnya. Penekanannya ada dalam keahlian dan siapa yang terbaik diantara mereka. Sedangkan anak wanita cenderung bermain dalam kelompok yang kecil bahkan hanya berdua, dan biasanya akan menjadi teman baik; kuncinya adalah keintiman. Masing-masing dapat giliran dan biasanya tidak ada yang menang atau kalah, dan anak wanita tidak terlalu mengumbar/ membanggakan kesuksesannya. 

 4.                Seksis Dalam Bahasa Pria dan Wanita
  Bahasa  adalah   alat   komunikasi  yang dipakai oleh masyarakat untuk mengekspresikan gagasan yang telah menjadi konsesus bersama. Ekspresi bahasa tersebut menggambarkan kecenderungan masyarakat penuturnya. Oleh karena itu untuk mempelajari dan menjelaskan bahasa kita harus melibatkan aspek-aspek sosial yang mencitrakan masyarakat tersebut, seperti tatanan sosial, strata sosial, umur, lingkungan dan lain-lain. Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Chomsky dalam penelitiannya bahwa bahasa adalah asosial karena mengabaikan heterogenitas yang ada dalam masyarakat, baik status sosial, pendidikan, umur, jenis kelamin latar belakang budayanya, dan lain-lain.8Dalam hasil penelitiannya, Chomsky percaya bahwa bahasa adalah hasil konsensus masyarakat. Konsesus itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh dominasi penguasa yang ada karena merekalah yang punya kekuatan untuk mengeluarkan kebijakan. Namun demikian, perbedaan dalam penggunaan bahasa oleh kaum pria dan wanita memang sangat susah bila hanya sekadar kecenderungan biologis semata.

  5.                Perbandingan      Gaya    Komunikasi Budaya Maskulin dan Feminim
Wanita yang berasal dari budaya feminim menanggapi dunia secara berbeda daripriakarenapengalamandanaktivitasnya berbeda yang berakar pada pembagian kerja. Karena dominasi politiknya, sistem persepsi pria menjadi lebih dominan, menghambat ekspresi bebas bagi pemikiran alternatif wanita. Untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, wanita harus mengubah perspektif mereka ke dalam sistem ekspresi yang dapat diterima pria.
Pada umumnya, para pria telah mendominasi masyarakat melalui pembicaraan dengan menggunakan ekspresi yang kuat sementara wanita  harus beradaptasi dengan bahasa mereka untuk lingkungan-lingkungan mereka baik itu bisnis atau pribadi, dimana terdapat permasalahan bahasa ketika wanita dihadapkan antara bisnis dan hubungan pribadi. Mereka (wanita) dituntut menggunakan bahasa formal dalam lingkup bisnis tetapi tetap menggunakan “bahasa feminim” saat berbicara dengan teman- teman dalam hubungan pribadi. Jika mereka menolak untuk berbicara seperti layaknya wanita, mereka akan ditertawakan karena dianggap maskulin (tomboy), tetapi mereka juga diejek saat menggunakan “bahasa feminin” karena dianggap tidak dapat berbicara dengan tegas, contohnya saat wanita harus melakukan penyesuaian dalam setiap pidato mereka. Kebanyakan wanita bisa menguasai bahasa feminim dan bahasa maskulin serta merasa nyaman menggunakan bahasa feminim dan bahasa maskulin tersebut. 
Dalam sebuah situasi percakapan, Wanita (kaum feminim) cenderung menceritakan segala sesuatu dengan cara yang berbelit. Semua yang berkaitan bisa dikatakan secara panjang, padahal intinya bersifat sangat sederhana. Sementara itu,Pria (kaum maskulin) tidak memproses informasi panjang dengan gambaran yang terlalu luas. Karena itu, pria seringkali terlihat bosan dengan cerita yang berbelit. Pria cenderung mengatakan apa yang harus mereka katakan, dengan asumsi pesan yang disampaikan jelas dan maju dari titik yang ingin dicapai. Oleh karena itu, pria percaya bahwa wanita suka membuang-buang waktu, berbicara terlalu banyak dan tidak langsung pada maksud mereka, sebaliknya para pria cenderung lebih to the point .
Dalam sebuah pertengkaran, wanita cenderung suka mencampuradukkan masalah. Sementara itu, pria memiliki naluri melawan, apalagi jika dia tidak mengerti  mengapa   wanita   dapat menjadi marah. Dalam sebuah argumen keluhan,Sebenarnya, pria cenderung melihat diri mereka sebagai pemecah masalah. Jadi, apa yang dikatakannya mungkin adalah sebuah solusi singkat yang coba ia berikan. Hal ini membuat pria tidak merasa bahwa yang dikatakan pasangan adalah sebuah solusi. Justru, sebagai hal yang menunjukkan sifat acuhnya. Padahal, mayoritas pihak pria telah membantu pasangannya mencarikan sebuah solusi, walaupun hanya sebuah solusi sederhana. Dalam sebuah penyelesaian masalah, para pria memang dilahirkan dengan sifat acuh terhadap hal-hal sepele. Sementara itu, wanita memerlukan sebuah keyakinan bahwa hal sepele tersebut tidak akan mengganggu hubungan mereka. Terlalu banyak berpikir, mencemaskan hal kecil justru membuat masalah menjadi lebih kompleks atau bahkan membuat masalah baru. Perbedaan cara pandang inilah yang membuat pria dan wanita terkadang sulit menemukan kesepakatan. Tabel berikut dapat menggambarkan bagaimana gaya komunikasi wanita.

Tabel 1. Gaya Komunikasi Wanita

Tatkala Seorang Wanita Berkata…
Maksud Sebenarnya adalah…
Kita perlu bicara
Aku sedang stress atau punya masalah
Kita perlu
Aku ingin
Aku menyesal
Kamu yang akan me- nyesal
Itu keputusanmu
Selama aku setuju
Itu tidak masalah bagiku
Tentu saja itu masalah bagiku!
Kamu      harus      belajar berkomunikasi
Pokoknya setujui saja apa kataku
Apakah     kau     mencin- taiku?
Aku ingin sesuatu yang mahal
Kamu bersikap manis malam ini
Apakah seks saja yang selalu kau pikirkan?
Seberapa besar cintamu kepadaku?
Aku telah melakukan sesuatu yang tidak akan kau sukai
 
Perbedaan lainnya juga dapat dilihat pada kontak verbal antara  pria  dan wanita. Wanita lebih banyak bicara pada pembicaraan pribadi, sedangkan  pria  lebih banyak terlibat pembicaraan publik, pria menggunakan pembicaraan sebagai pernyataan fungsi perintah, menyampaikan informasi, dan meminta persetujuan. Wanita memiliki kosakata yang luas untuk menjelaskan emosional dan estetika mereka. Wanita telah diajarkan untuk mengekspresikan perasaan mereka, dan pria lebih kepada menyembunyikan dan menyampingkan perasaan mereka. Oleh karena itu, wanita lebih banyak dan lebih luas dalam berkata-kata untuk menunjukan apa yang mereka rasakan. Sebagai contoh, pria akan mendeskripsikan warna merah, sedangkan wanita mendeskripsikan dalam bentuk yang lebih spesifik seperti ruby, magenta, atau rose. 
 Dari konteks nonverbal, saat berbicara wanita cenderung menjaga pandangan, sering manggutdan berguman sebagai penanda ia mendengarkan dan menyatakan kebersamaannya. Pria dalam hal mendengarkan berusaha mengaburkan kesan itu sebagai upaya menjaga statusnya. Begitupula dengan bentuk-bentuk nonverbal lainnya, seperti nada suara, lingkungan, kontak tubuh, dan penampilan Wanita lebih ekspresif namun kurang memiliki kontrol. Dibandingkan dengan pria, Wanita lebih mampu mengekspresikan diri secara spontan dan menunjukkan pose wajah yang akurat terhadap apa yang sedang disampaikan. Seringkali karena sikapnya yang ekspresif wanita membuat hal-hal yang kurang disukai oleh komunikan karena wanita mampu mengekspresikan emosinya namun kurang memiliki kemampuan mengontrol apa yang sebaiknya tidak diekspresikan. Namun pria lebih mampu membaca tulisan dalam bentuk sandi (kode). Pria yang terlatih dalam bahasa nonverbal menunjukkan bahwa ia juga mampu membaca sandi. Selain itu pria juga menunjukkan tingkah laku yang lebih dominan saat berjabat  tangan,  marah, dan ekspresi kesal, sedangkan wanita menunjukkan gerakan tubuh yang lebih terkoneksi saat tertawa, tersenyum, dan postur tubuh lebih membuka diri.
  
Kesimpulan
 
   1.    Peran gender pada gaya komunikasi memang tidak dapat sepenuhnya dapat dijadikan alasan perbedaan   antara gaya komunikasi pria dan wanita, namun gender telah memberikan kontribusinya melalui proses sosialisasi pada masa pertumbuhan seorang anak laki-laki dan perempuan. Peran lainnya juga dapat tergambarkan melalui adanya seksis dalam bahasa pria dan wanita dari beberapa budaya tertentu.

    2.    Mengenai perbandingan gaya komu- nikasi antara dua budaya yang ber- beda yakni budaya maskulin (pria) dan   budaya   feminim   (wanita), tidak menunjukkan bahwa cara berkomunikasi pria lebih baik daripada cara berkomunikasi wanita atau sebaliknya. Namun perbedaan gaya komunikasi tersebut dapat diamati berdasarkan pengkategorian- pengkategorian tertentu, seperti perbedaan saat berbicara, pemilihan topic pembicaraan, cara interupsi, penggunaan kata/kalimat tanya, menggunakan cerita dan guyonan, dan kategori-kategori lainnya.
 
 
  

No comments:

Post a Comment